Rachmawati Soekarnoputri Duga Ada Yang Sengaja Rancang Kasus Makar

By | January 11, 2017

JAKARTA, KOMPAS.com — Tersangka perkara dugaan makar, Rachmawati Soekarnoputri, menduga masalah yg menjerat dirinya dan tujuh orang yang lain atas dugaan makar sudah dirancang oleh pihak tertentu. Hal itu disampaikan Rachmawati ketika bertemu dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa (10/1/2017).

Selain Rachmawati, hadir pula Ahmad Dhani, Kivlan Zein, Ernalia Sri Bintang, Hatta Taliwang, dan dua anggota Advokat Cinta Tanah Air (ACTA).

Dalam kesempatan itu, pihak Dewan Perwakilan Rakyat yg menyambut audiensi adalah Wakil Ketua Fadli Zon serta anggota Komisi III, Wenny Warouw dan Supratman Andi Agtas.

Rachmawati bercerita, dugaan itu muncul kali pertama dalam aksi damai pada Jumat (4/11/2016) lalu. Saat itu, setelah pukul 20.00 WIB, kerusuhan terjadi.

(Baca: Polisi Sebut Tersangka Dugaan Makar Gelar Pertemuan Lebih dari 10 Kali)

“Saya milik intuisi ini by design. Seolah-olah ada stigmanisasi karena sebelumnya ada yg menyebut gerakan ini ditunggangi aksi-aksi radikalisme. Tetapi, aku tolak pendapat dari dua orang,” kata Rachmawati di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.

Jelang dini hari, Presiden Jokowi memberikan informasi resmi dari Istana negara bahwa kerusuhan yg terjadi setalah aksi damai ditunggangi oleh aktor politik.

Menurut Rachmawati, terdapat upaya buat menyudutkan aksi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI. Beberapa pihak menyebutkan massa yg tergabung ketika aksi 4/11 itu yaitu aksi bayaran.

Rachmawati menuturkan, ketika rapat pada Minggu (20/12/2016) di kampus Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, dia melakukan konsolidasi dengan tokoh-tokoh nasional dengan beberapa tema pembicaraan. Pertama, aksi solidaritas bela Islam dan bela negara dalam upaya mengembalikan UUD 1945 yg asli.

(Baca: Curhat ke Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat soal Kasus Makar, Rachmawati Menangis)

Kuasa hukum Rachmawati Soekarnoputri, Yusril Ihza Mehendra, sebelumnya menduga penangkapan Rachmawati dan sejumlah pihak terkait dengan rapat di kampus UBK itu. Hal itu disampaikan Yusril pada Jumat (2/12/2016) di Mako Brimob.

“Jauh-jauh hari telah katakan agar UUD 1945 yg asli mampu kembali lagi. Saya menolak adanya amandemen UUD ke-5, ini bukan barang baru, tahun dahulu telah kalian sampaikan. Kami beritakan bagi kembali ke UUD yg asli. Jadi ini dipelintir,” ujar Rachmawati.

Kemudian, pada Kamis (1/12/2016), jumpa pers digelar di Hotel Sari PAN Pasific. Saat itu, Rachmawati mengatakan mulai melakukan aksi damai dan memberikan petisi ke Ketua MPR.

(Baca: Dari Balik Jeruji, Sri Bintang Bantah Terlibat Upaya Makar)

Sebelum penyampaian petisi ke MPR pada 2 Desember 2016 terjadi, Rachmawati mengaku sudah memberikan surat pemberitahuan ke Polda Metro Jaya. Dipekirakan, sekitar 20.000 orang mulai berjalan keluar Gedung MPR.

Selain kepada Polda Metro, Rachmawati juga mengaku sudah berkomunikasi perihal kedatangannya kepada Ketua MPR Zulkifli Hasan melalui telepon. Jika tak memungkinkan, Zulkifli mulai digantikan oleh Hidayat Nurwahid.

“Beliau (Zulkifli) menyampaikan mulai mengusahakan. Karena beliau hadir di Monas ada zikir. Jadi, tak ada persinggungan yg dituduhkan kepada kalian melakukan makar atau pemufakatan jahat itu,” ujar Rachmawati.

Kompas TV Soal Dana Makar, Polisi Dalami Peran Firza Husein

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2017/01/10/20272651/rachmawati.soekarnoputri.duga.ada.yang.sengaja.rancang.kasus.makar

Leave a Reply